Langsung ke konten
Kamis, 17 September 2026

Budiyono Dorong Unila Kurangi Ketergantungan pada UKT

Penulis: 2 menit baca

BALAM.ID, BANDAR LAMPUNG — Calon Rektor Universitas Lampung (Unila), Dr. Budiyono, S.H., M.H., mendorong penguatan income generating untuk mengurangi ketergantungan universitas terhadap Uang Kuliah Tunggal (UKT).

Gagasan tersebut disampaikan Budiyono saat memaparkan program strategis peningkatan kualitas dan kemandirian Unila, Rabu (16/9/2026), di Fakultas Hukum Unila.

Menurut Budiyono, potensi pendapatan alternatif dapat dikembangkan melalui optimalisasi aset, kerja sama dengan dunia industri dan pemerintah daerah, pemanfaatan CSR, penguatan jejaring alumni, pengembangan Rumah Sakit Pendidikan, hingga hilirisasi hasil riset.

“Unila tidak boleh selamanya menjadikan UKT sebagai tumpuan utama pembiayaan. Kita harus membangun sumber pendapatan alternatif agar beban pembiayaan pendidikan tidak terus dibebankan kepada mahasiswa,” kata Budiyono.

Ia menilai aset Unila tidak hanya berupa tanah dan gedung, tetapi juga sumber daya manusia, alumni, jejaring pemerintah, industri, serta hasil penelitian. Seluruh potensi tersebut perlu dipetakan dan dikelola secara profesional.

Budiyono juga menyoroti lahan hibah sekitar 150 hektare di Kotabaru. Ia menilai lahan tersebut harus segera dikembangkan menjadi kawasan pendidikan dan penelitian yang produktif, antara lain untuk pertanian, peternakan, pusat riset, pendidikan, dan agrowisata melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah serta dunia industri.

Selain itu, sekitar 140 ribu alumni Unila dinilai menjadi kekuatan strategis. Budiyono mendorong terbentuknya ekosistem alumni yang saling memberikan manfaat, termasuk melalui beasiswa, riset, pendidikan, dan jejaring industri.

Di bidang riset, ia menekankan pentingnya hilirisasi agar hasil penelitian tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dapat dimanfaatkan pemerintah, masyarakat, dan dunia industri.

“Riset jangan berhenti di publikasi. Riset harus sampai kepada pengguna,” ujarnya.

Budiyono menegaskan, pengembangan sumber pendapatan alternatif bukan sekadar meningkatkan pemasukan universitas, tetapi membangun kemandirian finansial sehingga pembiayaan pendidikan tidak sepenuhnya bergantung pada UKT mahasiswa”, tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *