BALAM.ID – BANDAR LAMPUNG
Penyebaran HIV tahun 2025,
Kota Bandarlampung menempati peringkat pertama di antara, kabupaten/kota di Provinsi Lampung. Berdasarkan Data Dinas Kesehatan Provinsi Lampung mencatat, jumlah kasus di ibu kota provinsi tersebut mencapai 119 kasus.
Berdasarkan laporan perkembangan situasi HIV yang dihimpun dari survei dan pencatatan kesehatan, Bandarlampung menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi. Posisi berikutnya ditempati Way Kanan dengan 101 kasus, disusul Pringsewu 100 kasus, Tulang Bawang 93 kasus, dan Kota Metro 92 kasus.
Selanjutnya, Tanggamus tercatat 83 kasus, Lampung Selatan 82 kasus, Lampung Tengah 81 kasus, Lampung Timur 77 kasus, Tulang Bawang Barat 74 kasus, Pesawaran 71 kasus, Lampung Barat 70 kasus, Mesuji 69 kasus, Pesisir Barat 68 kasus, dan Lampung Utara 65 kasus.


Menanggapi hal itu Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandarlampung, Muhtadi A. Temenggung, mengatakan bahwa Human immunodeficiency virus (HIV) merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh.
Ketika seseorang terpapar virus ini, kemampuan tubuh untuk melawan infeksi akan semakin melemah.
“Orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) adalah mereka yang telah terinfeksi HIV atau berada pada fase AIDS. Penularan umumnya terjadi melalui hubungan seksual berisiko dan penggunaan narkoba suntik,” kata dia
Sebagai ibu kota provinsi, Bandarlampung memiliki kepadatan dan mobilitas penduduk yang tinggi. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko penyebaran HIV/AIDS, terlebih jika disertai perilaku seksual berisiko.
Dinas Kesehatan, telah melakukan berbagai langkah pencegahan, mulai dari sosialisasi dan penyuluhan melalui puskesmas keliling hingg, imbauan kepada masyarakat agar menjaga kesehatan dan tidak berganti-ganti pasangan.
Bandarlampung yang kini berkembang sebagai kota tujuan wisata juga menghadapi tantangan tersendiri. Tingginya mobilitas dan pergaulan tanpa kontrol dapat memperbesar risiko penularan. Data menunjukkan kelompok usia 25–49 tahun menjadi kelompok dengan kasus tertinggi, yakni sekitar 64 persen.
Yang kerap menjadi persoalan, HIV sering kali tidak langsung menimbulkan gejala. Banyak penderita tetap beraktivitas seperti biasa tanpa menyadari bahwa sistem kekebalan tubuhnya perlahan melemah. Ketidaksadaran inilah yang membuat penanganan kerap terlambat.
Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik. Ia adalah cermin peringatan bahwa upaya pencegahan, edukasi, dan kepedulian bersama harus terus diperkuat. HIV bukan hanya persoalan medis, melainkan juga persoalan kesadaran, tanggung jawab, dan keberanian untuk menjaga diri serta orang lain.














