BALAM.ID – BANDAR LAMPUNG
Badan Gizi Nasional (BGN) menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi petugas penjamah makanan, dalam rangka mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan memperkuat pengawasan terhadap kualitas makanan di Satuan Penyedia Bahan Gizi (SPBG) di Provinsi Lampung. Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh layanan gizi anak berjalan aman, higienis, dan tepat sasaran.
Walikota Bandarlampung, Eva Dwiana, mengatakan bahwa pemerintah daerah menyiapkan satuan tugas (satgas) khusus guna memperkuat pengawasan lapangan dan mencegah terulangnya insiden terkait keamanan pangan di masa lalu. “Harapan saya, ke depan tidak lagi terjadi hal-hal seperti yang pernah terjadi sebelumnya, sehingga pelayanan semakin baik. Dengan adanya satgas ini, seluruh BGN di Bandarlampung dapat terpantau dengan baik,” ujarnya.


Walikota menegaskan, jumlah BGN di Kota Bandarlampung cukup banyak, terutama di kawasan padat penduduk dan wilayah tujuan utama. Karena itu, pengawasan yang ketat menjadi penting untuk menjaga mutu pelayanan dan asupan gizi anak.“Harapan besar kita adalah agar semua BGN mampu memberikan pelayanan terbaik serta memastikan asupan gizi yang berkualitas bagi anak-anak di Bandarlampung,” imbuhnya.
Sementara itu, Direktur BGN Wilayah I, Wahyu Widisetyanta, menyampaikan bahwa Provinsi Lampung mencatat capaian positif dalam realisasi SPBG. Hingga saat ini, terdapat 682 SPBG aktif dari target 791, dengan potensi perputaran dana mencapai Rp682 miliar per bulan dari pusat ke daerah.“Jika satu SPBG mampu menyerap sekitar Rp1 miliar per bulan, maka ada sekitar Rp682 miliar dana pusat yang masuk ke lapangan setiap bulan. Ini capaian yang patut disyukuri,” jelas Wahyu.
Wahyu menambahkan, pelatihan teknis yang digelar kali ini menjadi bekal penting bagi para petugas agar lebih profesional dalam menangani bahan pangan, terutama untuk mencegah kesalahan fatal yang berdampak pada kesehatan masyarakat
Kita mengusung tema BGN Road to Zero Mistake — menuju kondisi tanpa kesalahan, terutama dalam mencegah kasus makanan beracun atau pencemaran bahan pangan. Ini penting agar masyarakat benar-benar merasa aman,” tuturnya.
Dengan pengawasan yang semakin ketat dan peningkatan kompetensi petugas di lapangan, diharapkan program pemenuhan gizi anak di Bandarlampung dapat berjalan lebih optimal, transparan, dan berkualitas.














